Berdasarkan perhitungan astronomi, aktivitas matahari yang meningkat tidak akan menyebabkan punahnya kehidupan di Bumi. Namun, para ahli memperkirakan kekacauan akan terjadi.
Heboh film 2012 telah mendatangkan keuntungan hingga 700 juta doUar bagi Sony Pictures Entertainment. Film tentang kiamat yang didasarkan pada ramalan kalender suku Maya (sebuah suku di pedalaman di Guatemala, Meksiko), yang berakhir pada 2012 itu, secara spektakuler mampu memvisuali-sasikan sebuah plot bencana dari sisi terekstrem tanpa umat manusia dapat menahannya.Selain itu, sinema garapan sutradara Roland Emmerich tersebut turut memengaruhi opini publik akan terjadinya kiamat dan kehancuran Bumi sebagai korelasi dengan peningkatan aktivitas matahari.Jika ditarik kesimpulan secara ilmiah, aktivitas matahari yang berlebihan memang bisa berdampak tidak baik bagi planet yang ada dj sekitarnya. Dampak itu dapat menjadi negatif bila aktivitas matahari terbilang cukup besar.
Seperti diketahui, saat beraktivitas, bintang yang menjadi pusat tata surya ini melontarkan miliaran ton partikel dan plasma berenergi tinggi serta radiasi gelombang elektromagnetik. Bila terkena makhluk hidup, kedua jenis lontaran itu tentu mampu mengakhiri hidup mereka.Lontaran beragam partikel itu sebenarnya diawali dengan munculnya sunspot atau bintik hitam pada permukaan matahari. Bintik-bintik hitam yang jumlahnya sangat banyak itu memiliki medan magnet 1.000 hingga 4.000 gauss.
Akan tetapi, sunspot ini memiliki suhu yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan daerah lain di permukaan matahari. Sunspot muncul akibat garis medan magnet yang ter-puntir arus rotasi matahari yang kemudian menyebabkan jilatan panas kulit matahari dan membentuk sebuah ruang kosong di permukaannya.Bila bintik hitam di permukaan matahari semakin banyak, secara otomatis aktivitas matahari semakin meningkat, Aktivitas yang i tinggi dalam jangka waktu sekejap dapat menimbulkan dua buah ledakan.
Ledakan pertama berwujud flare, yaitu ledakan di tubuh matahari akibat terbukanya salah satu kumparan medan magnet. Kedua, coronal mass ejection (CME) atau lontaran massa ko-rona, yaitu sebuah letupan massa dari daerah korona matahari yang terlontar ke arah luar.Kedua aktivitas itu ternyata dapat memengaruhi stabilitas kehidupan di Bumi. Ambil contoh flare. Selain melemparkan partikel berenergi tinggi, flare memancarkan radiasi gelombang elektromagnetik, seperti sinar X dan Y. Apabila kedua gelombang radiasi ini terlontar, efeknya dapat mencapai Bumi hanya dalam waktu sekitar delapan menit, sementara partikel berenergi tingginya membutuhkan waktu satu hingga dua hari.
Dan ketakutan utama bagi makhluk hidup di Bumi adalah hadirnya super flare, sebuah ledakan yang sangat besar dan berdampak serius pada cuaca antariksa.Efek CME tak kalah gawatnya lika massa dari daerah korona matahari ini terlontar ke Bumi,besaran yang lepas dapat mencapai 200 miliar hingga 40 triliun kilogram massa korona dengan energi sebesar 10 juta joule sampai 600 miliar joule. Lontaran CME bisa mencapai Bumi dalam waktu satu hingga tiga hari karena kecepatannya rata-rata berada di angka 350 kilometer per detik. Padahal jarak matahari ke Bumi relatif jauh, yaitu 150 juta kilometer.
Hanya saja, Bumi tidak seko-song yang dikira. Dalam lapisan atmosfer, planet yang berada di urutan keempat setelah Merku-rius, Venus, dan Mars ini memiliki magnetosfer. Magnetosfer merupakan medan magnet yang menjangkau ribuan kilometer ke antariksa. Magnetosfer ini membentuk daerah magnet yang menyelimuti Bumi dan berperan sebagai perisai pelindung dari serangan partikel akibat aktivitas matahari.Akibat tekanan angin matahari yang besar, bentuk magnetosfer jadi menyerupai kornet. Perisai yang menghadap matahari akan menangkal radiasi berbahaya yang dipancarkan sang surya, seperti partikel alfa, beta, dan CME. Partikel-partikel itu akan dibelokkan ke arah kutub-kutub magnet ke luar jangkauan Bumi.Bagian yang membelakangi matahari terbentuk seperti ekor kornet. Inilah pelindung Bumi karena menjaga Bumi dari terjangan badai matahari. Namun, bila berhadapan dengan super flare, magnetosfer tidak mampu berbuat apa-apa. Super flare sendiri diprediksi dapat menelan Bumi jika memang benar terjadi.
Kiamat Kecil
Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa (Pusfatsainsa) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Sri Ka-loka Prabotosari mengatakan jika CME dan flare terjadi, dampaknya tidak akan sampai membuat aktivitas [.umi berakhir, seperti yang digambarkan pada 2012.
"Kiamat yang terjadi adalah kiamat kecil. Kemungkinan seluruh jaringan komunikasi terputus karena jaringan satelit sangat mungkin tersapu badai matahari. Atau paling tidak, tumbukan antara partikel angin matahari dan panel surya di-satelit membuat muatan listrik berlebih dan merusak mesin satelit," jelasnya.
Akibat ketiadaan kontak via jaringan yang menggunakan satelit, seperti GPS (global positioning system), telepon, ataupun Internet, segala aktivitas di Bumi akan mandek. "Bisa-bisa aktivitas bursa saham mengalami chaos dan kepanikan ekonomi menjalar ke seluruh bagian di dunia," tambahnya.
Hal yang sama pernah terjadi pada 1989 di Quebec, Kanada. Saat itu, seluruh aliran listrik di negara tersebut mati akibat efek badai matahari. Jamak dipahami, generator pembangkit listrik menggunakan medan magnet yang tentu dengan mudah akan terpengaruh aktivitas matahari yang sepenuhnya melontarkan energi bermuatan magnet. Quebec terkena dampaknya karena berada di daerah lintang tinggi.
Amannya Bumi dari ancaman cuaca antariksa dan badai matahari selama ini, selain disebabkan adanya magnetosfer, juga dibantu oleh adanya rotasi matahari. Kepala Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN Clara Y Yatini mengungkapkan rotasi matahari pada porosnya membuat sang surya mengalami siklus rutin. Siklus matahari ini berlangsung selama sembilan hingga 13 tahun per satu kali siklus."Namun, bila dirata-rata, siklus yang normal berada di angka 11 tahun," terangnya.Siklus matahari ini memiliki tingkatan, yaitu masa awal, puncak, dan akhir siklus. Biasanya pada awal dan akhir siklus tidak menimbulkan kekhawatiran karena cenderung berada dalam fase tenang. Sebaliknya, yang membuat waswas adalah masa puncak- siklus, ketika aktivitas matahari mencapai puncaknya.
Berdasarkan perhitungan ahli astronomi, siklus matahari pertama dimulai pada 1800. Masa akhir siklus ke-23 adalah tahun 2006 setelah mengalami puncak pada 2001. Berikutnya matahari mengawali siklus ke-24 pada 2007. Bila menilik dari kalender siklus yang telah terjadi, kemungkinan besar puncak siklus ke-24 berada di antara tahun 2012 dan 2013.Nah, di sini terdapat kejanggalan kasus yang sempat keluar dari pakem siklus matahari sesungguhnya. Seharusnya matahari sudah menunjukkan aktivitasnya pada 2007. Namun ternyata pada waktu itu masih berada di titik mounder minimum atau titik dingin dan tenang matahari. Bahkan hingga akhir 2009, matahari tetap belum menunjukkan aktivitasnya yang signifikan.
Atas fakta ini, timbul sejumlah kekhawatiran bahwa matahari akan mengalami pembalikan siklus, yakni gejala yang dominan adalah pendinginan pada suhu Bumi.Hal ini pernah terjadi pada masa daratan Eropa menjadi beku akibat terlambatnya siklus matahari. Dan andaikata hingga mendekati 2012 matahari sama sekali enggan melakukan aktivitasnya, suhu di permukaan Bumi akan terus turun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar